Me Before You

 

Me Before You OST: Happy With Me by Hollychild [Klik PLAY and enjoy!]

me before you_2

Hajat tertunai.

Pasang angan dan impian, lalu ada rakan-rakan yang sekufu tidak mahu ketinggalan menjadi antara yang terawal menonton, maka … dapat juga lihat di panggung sehari selepas hari tayangan.

Jenis tidak toleh belakang dan tanpa ragu-ragu, what more bila kata hati itu berdetik, “This shall be a hit and definitely a good love story movie,”.

I was thrilled to watch the film, the moment I watched its trailer.

Ya, trailernya cukup meyakinkan untuk aku jatuh cinta dan pergi ke panggung untuk menonton. Dan sila maklum juga, bukan semua trailer filem itu boleh semudah ABC meyakinkan orang yang gelarannya Abby ini ya, bear that in mind 😋

Diadaptasikan dari novel tulisan Jojo Mayes, I knew this piece wouldn’t be as cliche as our Malaysian pieces (not all, of course). At least, we can’t simply jump into conclusion or predict the whole storyline, seperti selalunya kalau tonton any of the local dramas.

Penceritaan, plot dan the narrative way of the author describing the whole situation, from the point of Louisa Clark’s view, the heroine’s character towards his helpless, quadriplegic man, lakonan si handsome bergaya, Sam Claflin (Will Traynor) adalah sesuatu yang sangat awesome sebab penonton senang dibawa dan terbuai dengan perasaan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, di dalam keadaan yang undescribable, also due to unavoidable reasons.

Undescribable di sini merujuk kepada situasi fizikal kedua-dua hero dan heroin yang pada pandangan mata kasar, sebenarnya hampir mustahil jugalah untuk mereka meneruskan impian hubungan mereka. Well, ini mungkin dari sudut pandangan gerak hati aku sebagai wanita, juga sebagai seseorang yang dah macam jadi tipikal pemikirannya sebab pernah tengok drama/baca novel Melayu …? 😆

image

… and in describing the hardship that Will need to go through ever since the accident, sebenarnya sangat menggerunkan jugalah (I could say, menginsafkan kalau aku di tempatnya) and from that particular scene, the only think that lingered in my mind was; “There’s no way they can get together, for life,”.

To me, to watch that scene is way too heartbreaking. Cubalah cari scene itu kalau berpeluang menonton ya.

I don’t really curious or cautious enough about the ability of the two main characters in delivering their acting perfectly throughout the film, since I am not a die-hard fan of Game of Thrones or Hunger Games which aren’t that familiar to me either 🙈 (oh maafkan kakak yang ketinggalan banyak dalam hal ehwal cerita super aksi bersiri ini).

Tertarik dengan raut wajah para pelakonnya, itu adalah sesuatu yang bukan luar biasa pun Abby selalu buat 😋. But truly, this film portrays their natural beauty indirectly that could simply hook you on the screen, like from the very beginning.

Nanti, akan terpacullah ayat seperti dan seangkatan dengan, “Argh, sweetnya dia” berulang kali, setiap kali si Louisa muncul. Cause she, who is innately funny and loves to unembarrassed herself at most of the scenes, memang sejenis senang menjadi pujaan ramai, walaupun yang menonton itu adalah golongan wanita. (Lelaki jangan cakap!)

Well, Miss Clark here really nailed it well!

image

me before you_1

Untuk mesej utama jalan cerita Me Before You ini dapat difahami oleh penonton juga tidak susah, which is literally tidak jauh daripada tema cinta-itu-bukan-untuk-memiliki & there’s always unwelcomed circumstances in life that you’ll need to eventually bear with, asalkan rasa cinta dan bersedia menerima pasangan kita seadanya itu ada.

Well, kalau bukan kerana kita yang berada dalam situasi tersebut, pasti ada keluarga, kenalan atau sahabat kita yang merasai pengalaman serupa.

Walaupun dikritik hebat oleh media Barat sendiri (among disability activists esepcially) kerana cerita ini seolah-olah memaparkan kehidupan Will sebagai orang kurang upaya yang langsung tiada punya daya lagi untuk hidup itu …. seakan-akan tiada lagi tempatnya di atas muka bumi ini untuk mereka, maka sebaik-baik pilihan yang ada iaitu mati sahaja … bukanlah suatu mesej yang digemari.

I look at it differently, although I strongly agree that disabled individuals have more than little to live for. They shouldn’t have felt that way, seharusnya.

Me Before You, is another lovely piece that oneself can always enjoy the aimless-with-low-grade-fashion-style Louisa Clark who has that passion to commemorating and living up the love story she shared with Will, as best as she should.

Sungguhpun perlambangan (symbolisation) yang menggambarkan momen-momen kematian itu hampir membuat kesemua yang di dalam panggung menitis air mata, EXCEPT for me … this film is really something for you to have a look, bila berkelapangan.

I didn’t cry at all, which was my biggest regret, but instead at that time … terus tengok jam di handphone and dang!

… I knew it!It’s a  sad ending! Huh.

image

Continue Reading